Bagaimana Mengelola Energi Emosional Untuk Orang yang Peka? Strategi Melindungi Diri Tanpa Kehilangan Produktivitas
Kamu pernah nggak merasakan tubuh yang lelah, padahal aktivitas hariannya biasa saja, nggak terlalu padat atau membebani. Trus tanpa kamu sadari mudah banget nangis, merasa sedih, banyak suara yang terus berputar di kepala. Apalagi kalau habis berinteraksi dengan orang lain “Seharusnya saya ngomongnya begini ke dia atau seharusnya sikap saya nggak perlu langsung begitu tadi.”
Tidak hanya itu bisa saja kamu jadi tempat “pembuangan” emosi orang lain yang lagi kesal sebab si A atau B, trus tanpa ada batasan diri kamu juga jadi terbawa cerita dia dan ikutan kesal. Maksud hati ingin berempati tapi malah jadi kamu yang menyulitkan diri sendiri, karena tanpa sadar “membuang” energi. Atau ketika kamu sendirian, tiba-tiba kamu kepikiran “Kenapa ya dia ngomong begitu tadi? kenapa ya sikapnya dia jadi aneh padahal terakhir ketemu minggu lalu masih biasa aja?”
Hal kayak begini tuh nggak bisa kamu diamin aja, kamu nggak bisa menyepelekan hal ini. Mungkin terlihat nggak penting ya, tapi kalau kamu bisa renungi lagi. Karena ini kamu jadi “sibuk” banget merasakan dan tanpa sadar lalai dalam mewujudkan fokus utama hidupmu.
Apa Itu Energi Emosional dan Mengapa Orang Peka Mudah Kehilangan Energi?
Energi emosional berkaitan dengan cara setiap orang dalam memproses emosinya. Ia bagaikan “bahan bakar” untuk kita memberi respon.
Lalu kenapa orang peka mudah kehabisan energi?
Ini disebabkan mereka yang suka memikirkan suatu hal secara mendalam, terlalu cepat menangkap perubahan suasana, dan mudah paham sama perasaan orang lain.
Mengetahui cara melindungi diri sendiri, tidak membuat kamu jadi kehilangan empati terhadap sekitar dan oranglain ya, bukan! Tapi kamu perlu membuat batasan diri yang tidak membuat kamu kehabisan energi.
Kenapa Mengelola Emosional Itu Penting Untuk Produktivitas?
Sebab energi emosional bertugas sebagai kompas yang bisa menentukan seseorang itu akan tetap mempertahankan fokusnya atau jadi mudah terdistraksi. Jika kamu mudah kelelahan secara emosional maka emosi negatif yang menguasai diri akibatnya mudah stres, cemas, tiba-tiba sedih dan merasa jenuh. Semakin tidak fokus dalam berkegiatan kan?
Produktif itu bukan hanya mengatur waktu yang kamu miliki tapi bagaimana cara kamu mengelola energimu. Karena mengelolanya merupakan sebuah kebutuhan yang sangat krusial.
Jadi, bagaimana cara efektif untuk mengelola energi emosional bagi orang yang peka?
Fokusnya bukan kita berubah jadi ngga peduli atau ngga berempati ya. Tetapi bagaimana cara agar kamu tidak ikut “tenggelam” dengan energi yang sedang dirasakan. Diantaranya sebagai berikut:
1. Kenali Batas Emosionalmu
Tidak semua hal yang kamu rasakan adalah milikmu. Terkadang sebenarnya ya, kita itu hanya sedang “menangkap” perasaan orang lain lalu perasaan itu dianggap milik kita.
Coba saja mulai dari pertanyaan sederhana untuk diri sendiri “Ini memang perasaanku atau perasaan yang aku serap dari luar?”
Coba sadari betul dengan hal sederhana ini dulu ya, ketika kamu bisa menyadarinya, kamu menyelamatkan banyak energi.
2. Bangun Batasan yang Sehat
Kamu tidak harus selalu ada
Kamu tidak harus selalu membantu
Kamu juga tidak harus selalu mendengarkan
Kamu harus mengerti batas energimu terhadap interaksi sosial di sekitarmu, agar kamu tidak kehilangan dirimu sendiri, agar kamu tidak merasa kosong dan agar kamu bisa menjaga energimu dengan baik.
Saya merasakan banget dulu, punya teman yang energinya nggak habis habis buat sharing cerita hidupnya. Awalnya nggak ada masalah, tapi lama kelamaan setiap cerita, ceritanya tanpa sadar membuat saya ikut lelah juga. Setiap dia nelpon langsung diangkat. Setiap ngajak ke tempat mana gitu, langsung iyain. Jadi kayak “Lah kok saya membiarkan tugas diri sendiri nggak selesai demi berempati ke orang lain?”
Dengan batasan dan keberanian untuk bilang “nggak” barulah saya bisa “membenahi lagi” energi diri ini.
3. Kurangi Overstimulasi
Selain karena untuk menjaga diri sendiri, Rasulullah saja juga meriwayatkan bahwasanya cara terbaik beragama adalah
“Seseorang yang mengasingkan diri ke lereng-lereng gunung, demi menunaikan apa yang menjadi hak Allah (ibadah) dan meninggalkan manusia.” (HR Al Hakim)
Bukan karena ingin memutus silaturahmi tapi karena kamu ingin menjaga diri, menjaga energimu, lisan, dan hati dari lingkungan yang membawa mudharat.
Sehingga kamu perlu ruang “hening” untuk dirimu dengan menjauhkan dari notifikasi, scrolling dan “terhubung” dengan energi orang lain.
4. Buat Ritual Untuk Mengisi Ulang Energi
Coba deh hal sederhana yang saya lakukan ketika kehabisan energi, ialah
- Duduk diam tanpa harus melakukan kegiatan produktif
- Menulis apapun yang kamu rasakan dan pikirkan
- Pergi jalan santai keluar rumah
Perlahan tapi pasti aktifitas sederhana ini sangat berdampak untuk tubuh saya untuk kembali. Semoga kamu juga bisa mempraktikkannya.
5. Latih pikiran Agar Tidak Memaknai Semuanya Terlalu Dalam
Semua terjadi dengan izin Allah. Jadi tidak ada maksud tertentu untuk kita. Maka ya sudah ketika sesuatu hal itu terjadi, karena memang seharusnya terjadi nggak sih?
Memang sudah begitu seharusnya.
Tidak semua hal harus kamu maknai terlalu dalam.
Tidak semua hal harus selalu kamu hubungkan satu kesatuannya.
Percaya deh, sikap ini sangat menguras energi.
Mengutip dari salah satu kajiannya Ustadz Khalid Basalamah yang menjelaskan bahwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Sebagian manusia ada yang sibuk ngurusin urusan orang lain, padahal urusan itu tidak ada faedahnya sama sekali buat diri mereka. Sehingga waktunya menjadi sia-sia tidak bermanfaat, hatinya sibuk, dan pikirannya melanglang buana terpecah-belah.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 1/115).
Seorang muslim hanya akan sibuk dengan dirinya sendiri bukan sibuk dengan urusan orang lain.
Rasulullah juga bersabda “Hendaknya engkau sibuk dengan urusan privasi-mu.” (HR. Abu Daud 4343, HR. Ibnu Majah 3957).
Kamu perlu belajar mengatakan “Bahwa ini sederhana dan saya tidak perlu terlalu serius memikirkannya.”
6. Kelola Energi, Bukan Hanya Waktu
Bukan lagi manajemen waktu yang kamu fokuskan ketika ingin produktif tetapi bagaimana kamu mengelola energi dengan baik dan bijak. Beri jeda dan istirahat ketika kamu kelelahan ini jadi bagian untuk mendukung produktifitasmu.
Kamu nggak harus menyenangkan hati semua orang
Kamu nggak boleh mengabaikan diri sendiri
Tapi kamu boleh punya jeda agar tidak kehilangan arah
Cara Tetap Produktif Tanpa Mengorbankan Kesehatan Emosional
Saya mulai mengubah sudut pandang tentang produktivitas, dengan bilang
“Hari ini saya ingin melakukan hal yang benar-benar penting dengan energi yang cukup.”
Selain itu, kamu bisa mencoba ini untuk tetap produktif
Fokus pada 1-2 prioritas utama
Buat sistem kerja yang fleksibel
Beristirahat tanpa merasa bersalah
Menjadi manusia yang peka itu bukanlah masalah tapi kamu hanya perlu memberi batas agar tidak menguras energimu. Kamu tetap bisa berempati dan tetap bisa menjadi dirimu sendiri.

Komentar