Bukan Santri Tapi Jadi Musyrifah Tahfidz: Cerita Perjalanan, Tantangan, dan Pelajaran Berharga

Untuk mereka yang tumbuh di lingkungan pesantren atau belajar di sekolah boarding, pasti tahu ya siapa itu musyrifah tahfidz, tapi untuk mereka yang belum tahu disini akan saya ceritakan sekaligus pengalaman pribadi ketika berperan dalam profesi yang insya Allah menyenangkan ini.

Musyrifah tahfidz itu sama seperti orangtua “kedua” bagi murid yang menetap di asrama, Tidak hanya hafalan qur’annya saja yang diperhatikan tapi bagaimana akhlak mereka dalam keseharian. 

Tapi masalahnya saya bukan lulusan pondok, bermodalkan sertifikat tahsin dan lomba MTQ yang saya punya, akhirnya saya memberanikan diri untuk masukin lowongan musyrifah ini. Benar-benar yang hanya coba-coba karena sudah menuju bulan ke empat setelah memutuskan ke kampung halaman dan kembali ke rumah orangtua, tapi belum juga mendapatkan panggilan kerja. 

Tapi hasil coba-coba ini yang mengubah hidup saya… 

Apa Itu Musyrifah Tahfidz dan Bagaimana Tanggung Jawabnya?

Musyrifah tahfidz berperan sebagai pembimbing sekaligus yang mendampingi kegiatan harian anak-anak selama di asrama. Perannya dibutuhkan untuk sekolah berasrama karena setelah kegiatan belajar mengajar selesai di kelas mereka kembali ke asrama tetapi tetap dipantau oleh  musyrif/ah ini. 

Tidak hanya hafalan qur’annya, tetapi juga memotivasi mereka yang jauh dari orangtua dan keluarga, mendampingi aktivitas harian, membentuk karakter dengan mencontohkan keteladanan, serta menanamkan kedisiplinan dalam ibadah. 

Mungkin terlihat mudah ya tapi nyatanya tidak seperti itu. Belum realitanya jika bertemu murid yang “sulit diarahkan”, circle yang berkelompok kelompok, kecemburuan sosial, hingga kasus bullying. Masih banyak lagi. 

Kalau kata ustadz Syaiful (beliau salah satu guru Al qur’an di boarding school ini) “Jangan terfokuskan dengan gaji yang kalian dapatkan ketika bekerja disini, tapi anggap saja kalian sedang mengabdi, agar bisa lebih berlapang dada dalam membersamai anak-anak.”

Awal mula: Kenapa Saya Menjadi Musyrifah?

“Mau coba dulu deh” waktu itu saya berpikir seperti itu ketika menemukan lowongan musyrifah ini karena persyaratannya ngga muluk muluk. Salah satunya karena masih bisa mengunjungi orangtua juga jika beneran diterima. Tapi kalau secara background saya bukan lulusan pondok juga bukan lulusan pendidikan. Saya lulusan ilmu murni biologi, saat itu jadi hanya meniatkan diri untuk bisa “belajar sambil mengajar”. 

Bukan dalam waktu singkat, butuh satu bulan ketika saya mendapatkan pesan untuk interview langsung di sekolahnya. Setelah diskusi dengan orangtua, dan beliau beliau mendukung akhirnya saya putuskan untuk berangkat dan memesan travel. Yap, pulang pergi dalam sehari itu. Jaraknya lumayan kalau dari rumah, 2 jam perjalanan.

Ketika sampai memang langsung diarahkan ke ruangan. Ada tes tulis, tes bacaan qur’an dan terakhir interview dengan kepala sekolah juga guru Al qur’an. Kepala sekolahnya cukup kaget karena saya benar-benar datang hanya untuk interview, mengingat rumah saya yang jaraknya tidak dekat dengan sekolah.

Kalau mungkin ada yang berfikir “kok effort banget, padahal belum tentu diterima juga”. Tapi ya itulah pilihan yang saya pilih waktu. Apapun hasilnya yang penting sudah kita usahakan bukan semampu yang bisa kita lakukan? 

Karena kalau berdasarkan cara berpikirnya manusia kayak ngga bakal diterima tapi belum tahu kan menurut Allah bagaimana?

Sambil terus berdoa, meminta pekerjaan yang jauh dari mudharat dan berlimpah manfaatnya untuk diri sendiri juga untuk keluarga.

Tidak ada kabar selama satu bulan lagi, ya saya kira tidak terima, tapi nyatanya pesan masuk dari salah satu ustadz yang pertama kali menghubungi saya kemarin. Saya diterima dan bisa segera membawa barang-barang untuk tinggal di asrama. Tapi perasaan “memangnya saya bisa?” masih saja terus menghantui. Panggilannya ustadz ustadzah pula. Merasa ngga pantas itu ada banget saat itu. Namun berkali kali pula ibu meyakinkan, “ini salah satu cara baik untuk bisa upgrade diri.”

Kalimat inilah yang menjadi modal saya untuk melangkah, karena ridha orangtua ridha Allah juga bukan? 

Tantangan Besar yang Saya Hadapi

Minder Karena Tidak Memiliki Background yang Seharusnya

Setiap kesempatan ketika berkumpul dengan yayasan, guru sekolah juga musyrif/ah, pasti yang ditanyakan pertama kali itu adalah pernah mondok dimana atau jurusan kuliahnya kemarin apa? wkwk. Saya berusaha untuk setenang mungkin ketika menjawab pertanyaan ini, karena memang ngga masuk sama sekali. 

Apalagi ilmu dan kemampuannya kan, ketika membersamai anak-anak memberikan mereka nasehat butuh pengetahuan yang benar dan penyampaian yang juga tepat bukan?

Selain belajar dari kajian kajian ustadz, saya sampai beli buku parenting loh, dan yang paling powerful dengan mendoakan mereka, selayaknya mendoakan anak sendiri. 

Ustadz Syaiful lagi yang bilang seperti ini “kirimkan anak-anak itu Al fatihah, kalau bisa sebut namanya satu-satu, biarkan Allah saja yang melembutkan hati mereka.”

Menghadapi Santri dengan Beragam Karakter

Banyak sifat dan karakter yang biasanya memang kita temui bukan? tapi yang ini berbeda, anak SMP SMA yang lagi puber, mood swing, bahkan over sensitif, kalau mau diarahkan ya Alhamdulillah tapi yang ngga? ya Alhamdulillah juga >.<. 

Belajar sabarnya itu ya disini, belajar dewasa, belajar bagaimana mengontrol emosi, dan bagaimana belajar cara berkomunikasi yang membuat mereka itu mau mendengarkan kita.

Adaptasi dengan Lingkungan Sekolah Boarding

Kalau untuk ini Insya Allah saya bisa mengikuti, walaupun tidak pernah menjadi santri, tetapi saya tumbuh dari orangtua dan lingkungan yang juga membiasakan disiplin dalam beribadah dan keseharian sehingga ketika menerapkan hal ini ke mereka jadi tidak terlalu kaget. 

Tantangannya ya sabar sabar lagi haha, karena murid ini juga masih membiasakan dirinya bukan? beneran deh, doakan mereka. Karena saya cukup merasakan dampaknya dengan cara ini.

Pelajaran Hidup yang Saya Dapatkan

Belajar Berdamai

Kalau di ingat lagi, peran ini tidak pernah ada dalam perencanaan hidup saya, kalaupun iya ya nanti ketika sudah memiliki pasangan lalu punya anak. Tapi kata Allah ngga kayaknya, saya perlu benar-benar belajar dulu dengan praktik langsung. Hasilnya saya jadi memahami, mendidik itu butuh ilmu, dan perempuan sangat harus terus mau belajar apalagi ketika sudah berkeluarga nantinya.

Terus memperbaiki niat kalau ngga mau kecewa dan sedih yang berlebihan. Menghadapi manusia dan dunia itu melelahkan, benar benar menguras energi, apalagi kalau bukan Allah tujuannya. Jadi coba ubah niatnya dengan berharap ridha Allah ya. 

Ilmu Bisa Dikejar, Tetapi Niat yang Menentukan Arah

Walaupun bukan dari lulusan yang searah untuk menjadi musyrifah, tetapi saya punya kesempatan untuk belajar. Niat diawal “belajar sambil mengajar” sangat saya dapatkan di lingkungan ini. Setiap minggunya kita punya jadwal untuk resume buku bacaan atau tontonan kajian dari youtube lalu hasilnya dipresentasikan. Metode ini juga ngaruh untuk saya membersamai para murid di asrama.

Lalu ada niat “aktivitas yang manfaatnya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga keluarga”. Sebelum berangkat, ibu membawakan dua helai baju almarhumah nenek dan bilang “di pakai ya kak mau beraktivitas apa saja, semoga pahalanya bisa sampai ke beliau juga.” Dan ya, saya kenakan baju itu sesuai permintaan ibu.

Selama 6 tahun merantau di Bogor lalu sempat bekerja di Jakarta, jarang ada waktu dan rezeki untuk bisa kumpul dan melihat orangtua, kalaupun bisa pulang ya bisa dihitung jari, tapi dari sini Alhamdulillah bisa sebulan sekali mengunjungi ayah ibu.

Allah Tidak Pernah Salah Menempatkan Kita

Kalau kamu pernah merasa “ini bukan saya banget”. Saya pernah berpikir seperti itu, tetapi lagi dan lagi dengan banyaknya nikmat ini rasanya bukan karena merasa ini bukan dunia saya, tapi karena peran dan tempat inilah saya jadi banyak belajar untuk episode yang akan datang.

Allah ngga pernah salah, hambanya yang bodoh ini saja terlalu cepat menyimpulkan dan merasa benar.

Menjadi musyrifah tahfidz bukan perihal dia yang paling alim, paling banyak hafalannya, paling banyak ilmunya, apalagi paling sempurna. Tetapi tentang belajar tanpa henti, dan menghadirkan diri untuk orang lain.

Jalan yang tidak kita pilih dengan yakin di awal, justru perjalanan itulah yang paling membentuk kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mengenal Dirinya "Lagi"

Kunci Kecukupan

Kenapa Tubuh Kita Sering Kelelahan Padahal Tidak Sibuk? Berikut Penjelasannya