Membenahi Fase

    

    Kuhirup udara pagi yang menyejukkan setelah membuka jendela kamar. Tepat di baliknya berdiri kokoh bangunan putih berkubah dengan arsitektur yang indah dan ukiran dinding dengan lafadz Allah. “Tempat yang berbeda lagi”, ucapku di dalam hati. Aku berdiri mengamati dengan saksama setiap bangunan yang berdiri di sekitar tempat yang aku huni saat ini, lalu beralih mengamati pergerakan awan yang tidak terlihat sama sekali karena tertutup oleh kabut di pagi hari. 

                ||Baca juga: Bukan Santri Tapi Jadi Musyrifah

    Entah kenapa menatap jendela dan awan adalah rutinitas yang aku sukai sejak kecil. Bukan untuk membuang-buang waktu tetapi suatu kebutuhan bagiku karena dengannya dapat rehat sejenak dari segala kerumitan yang dihadapi, mengambil waktu untuk bisa mengenali perasaan dan pikiran yang tersimpan. Belajar berdamai dan beradaptasi dengan banyak karakter orang-orang yang aku temui.

    Pada kenyataannya bertumbuh menjadi orang dewasa bukan hal mudah seperti yang dibayangkan. Berbagai bentuk ketidaknyamanan baik dari lingkungan baru atau orang terdekat sekalipun, perlu untuk dimaklumi. Walau terkadang tidak mudah. Hal positifnya, bukankah ketidaknyamanan itu membuat kita bergerak untuk berbenah? Agar tidak terlena dengan zona nyaman yang ada di dalam diri. Memahami hal yang benar-benar ingin aku lakukan dari hati atau hanya untuk memenuhi ekspektasi manusia lainnya?

    Tidak hanya itu, butuh kerja keras dan keyakinan yang kuat untuk melawan ketidaknyamanan itu. Melawan musuh terbesar, yaitu diri sendiri. Begitu pun setiap episode yang dilalui, tersimpan begitu banyak cerita bermakna penuh hikmah. Sehingga malu rasanya jika tidak banyak-banyak bersyukur kepada yang sudah memberikan pertolonganNya dalam setiap fase. Allah ta’ala.

    Hidup berasrama, lingkungan yang teramat ramai ini mengajarkanku untuk banyak berlapang dada, untuk berani bersuara ketika waktunya harus bersuara karena jika tidak, bisa saja aku menjadi depresi karena lelah hati yang dibiarkan menggunung atau sikap diam yang akan menjadikan hatiku kotor dan berpenyakit. Tempat dan profesi ini banyak mengubahku. Terbiasa di lingkungan yang sepi, terbiasa sendiri rasanya begitu sulit ketika aku harus beradaptasi di lingkungan yang teramat ramai ini. Tetapi tidak apa bukan jika itu untuk kebaikan? Ternyata untuk menjadi manusia yang bermanfaat itu sangat butuh kekuatan.

    Sesekali aku mengambil waktu untuk menulis sebuah cerita unik yang terjadi di hari tersebut, bukan untuk sebuah postingan di media sosial. Melainkan untuk mensyukuri keberkahan hidup yang sudah Allah beri. Maha baiknya Allah dalam setiap kisah yang hadir di setiap episodenya. Menumpahkan seluruh sesak yang tersimpan hanya agar Allah mengampuni kalau-kalau itu adalah sebab maksiat atau khilaf yang tidak disadari.

    Mungkin hal ini juga kamu lakukan, ketika tidak mampu leluasa mengekspresikan diri dan perasaan dengan orang terdekat. Aku tuliskan setiap rangkaian peristiwa, menceritakan pertemuan dengan berbagai karakter manusia lalu membaca lagi kisah yang ditulis, sungguh mendamaikan jiwa. Lagi pula sudah cukup lama aku melakukan puasa media sosial, bukan karena trauma, tetapi pilihanku untuk menenangkan hati serta pikiran yang terlalu berisik, khawatir dengan yang belum terjadi lalu tak sengaja jadi membandingkan diri. 

    Berbeda dengan dulu, seiring dengan banyak hal yang sudah terjadi dan dilalui. Aku yakin, setiap fase apapun itu bisa dilewati. Insya Allah hal-hal baik akan selalu menyertai langkahku. Hal-hal indah akan menjadi hadiah terbaik dariNya untukku. 

     Untuk masa depan yang masih dirahasiakan ilahi, berharap setiap yang hadir adalah yang membawa keberkahan, kebaikan dan keselamatan untuk akhirat dunia serta lahir batin diri yang sangat lemah dan hina ini. 

    Selamat dan semangat untuk terus berbenah ya. Semoga kamu, aku dan kita semua menjadi salah satu hambaNya Allah yang diridhoi. Aamiin allahumma aamiin.

Note:

*tulisan ini sudah pernah diterbitkan dalam kumpulan buku antologi dengan judul “Senandika Hidup” di 2024 dan sedikit tambahan harapan saat ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Mengenal Dirinya "Lagi"

Kunci Kecukupan

Kenapa Tubuh Kita Sering Kelelahan Padahal Tidak Sibuk? Berikut Penjelasannya